Skip to main content

Gemilangnya Peradaban Islam di India


    


Peradaban Islam di India


Perjuangan dimulai…

Pasukan Khilafah Umayyah yang dipimpin oleh Qutaibah ibn Muslim dan Muhammad ibn Qasim berhasil memasuki India untuk pertama kalinya bersama 6000 tentara. Namun kekuasaan islam atas India masih sedikit saja

Perjuangan dilanjut oleh Mahmud Al-Ghaznawi, pemimpin Daulah Ghaznawiyah, yang menaklukkan seluruh India dan menghancurkan banyak berhala. Perjuangan ini ia lakukan 7 tahun lamanya sehingga ia berjuluk, “Sang Penghancur Berhala”

Kemudian di belakang hari ada Sultan Zahiruddin Babur yang melanjutkan perjuangan para pahlawan sebelumnya dengan mendirikan Daulah Mughal di India

Pejuang Islam penakluk India, Qutaibah ibn Muslim

Sultan Zahiruddin Muhammad Babur (Sultan Babur) 1482-1530

 

Kerajaan Mughal tergolong sebagai daulah islam termuda, dengan kata lain, kerajaan islam ini didirikan paling terakhir diantara kerajaan kerajaan islam lainnya.

Sultan Zahiruddin Babur, pendiri Kerajaan Mughal, adalah putra dari seorang penguasa Ferghana, Umar Mirza. Ia menaiki tahta, dan mendirikan Kerajaan Mughal diusianya yang masih 11 tahun setelah sang ayah meninggal dunia.

Pada awal masa kekuasaannya, ia sangat berambisi menguasai Samarkand, hingga ia berhasil menguasai Kabul, ibukota Afghan.

Sultan Babur, penguasa pertama Daulah Mughal


21 April 1526 M, didirikannya Daulah Mughal

l Sultan Babur menaklukkan Delhi pada 21 April 1526 M setelah pertempuran sengit melawan Ibrahim Lodi di Panipat. Maka segera setelah Delhi ditaklukkan, Daulah Mughal resmi didirikan oleh Sultan Babur, dengan ibukotanya Delhi

Ketika para raja Hindu mendengar berdirinya Kerajaan Islam di India, mereka segera bersatu melawan Babur pada 16 Maret 1527 M. namun, Sultan Babur berhasil mengalahkan mereka, walaupun musuhnya memiliki jumah pasukan yang tak terbilang.

Sementara di Afghan, keturunan Lodi masih dendam dengan Sultan Babur, sehingga mereka mengangkat adik Ibrahim Lodi, Mahmud Lodi sebagai pemimpin, namun dengan mudah Sultan Babur mengalahkan mereka.

Sultan Zahiruddin Babur meninggal pada tahun 1530 Masehi setelah memerintah Mughal selama 30 tahun, dengan meninggalkan banyak jejak kemenangan islam di India.

Sultan Nashiruddin Muhammad Humayun (Sultan Humayun) 1530-1556

Sultan Humayun tidak sehebat ayahnya, memang, karena ia sibuk memadamkan pemberontakan yang terjadi untuk melawan Mughal.

Pada masa kekuasannya, terjadi dua pemberontakan besar melawan Mughal, yang pertama yang dilakukan oleh Bahadur Shah di Gujarat, namun Bahadur Shah dapat dikalahkan oleh Sultan Humayun. Sehingga ia mendapatkan Gujarat dalam kekuasaannya.

Pemberontakan yang kedua (1540 M) dilakukan oleh Sher Khan Shah, pimpnan Afghan, namun lagi lagi mereka dapat dikalahkan, dan Sher Khan Shah terbunuh setelah Sultan Humayun mundur sementara ke Persia untuk mengorganisir pasukannya. Akhirnya pada tahun 1555 M, Sultan Humayun dapat kembali ke Delhi, namun setahun kemudian, ia meninggal lantaran terpeleset di tangga perpustakaannya.

Sultan Humayun, anak Sultan Babur, penguasa ke-2 Daulah Mughal

Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar (Sultan Akbar) 1556-1605

Sultan Akbar dingkat menjadi pemimpin Mughal diusianya yang ke 14 tahun. Ia memliki wakil Syi’ah bernama Bairan Khan, namun karena terlalu membela sekte Syi’ahnya, Sultan memberhentikannya dari jabatan wakil sultan.

Pada masa pemerintahan Sultan Akbar, kejayaan islam di India sangat terlihat. Banyak kemajuan yang diraih oleh Sultan Akbar dan sultan sultan berikutnya, diantaranya, kemajuan pemerintahan, dan ilmu pegetahuan, kejayaan peradaban, kemajuan di bidang ekonomi, seni dan budaya.

Pada masa Sultan Akbar, kemajuan yang paling terlihat adalah kemajuan bidang militer, kekuasaannya bukan hanya wilayah India saja. Ia menghabiskan waktunya untuk berjihad, dan perluasan negara, bahkan para pejabatpun diberlakukan wajib militer. Diantara wilayah yang ia talukkan adalah, Malwa, Chundar, kerajaan Ghond, Chitor, Rathanjar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, dan Benggal di wilayah Selatan. Kemudian ada Kashmir, Sind, Orissa, Kerajaan Deccar, Narnala, Ahmadnagar, dan Asitgah di Utara.

Sultan meninggal pada tahun 1605, meninggalkan jejak kejayaan pada umat muslim di India.


Sultan Akbar, penguasa kejayaan peradaban islam di India

Masa kejayaan Kerajaan Mughal (1556-1707)

 

Masa kejayaan Kerajaan Mughal, ada di tangan empat Sultan, mereka adalah, Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar (Sultan Akbar) (1556-1605), Sultan Nuruddin Muhammad Salim (Sultan Jehangir) (1605-1628), Sultan Shahabuddin Muhammad Shah Jehan (Shah Jehan) (1628-1658), dan Sultan Abul Muzaffar Muhiduddin Muhammad Aurangzeb Alamgir (Sultan Aurangzeb) (1658-1707)

Namun diantara empat sultan tersebut, Sultan Akbarlah yang paling berperan dalam masa kemajuan Kerajaan Islam besar ini, karena ialah yang memperluas besar besaran Daulah Islam ini, kemudian tiga sultan berikutnya hanya mempertahankan keutuhan kekuasaan, dan mengembangkan ekonomi, serta pembangunan ilmu pengetahuan, seni, dan budaya.  


Daerah kekuasaan Daulah Mughal

Kemajuan Ekonomi, Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Budaya

 

Kemajuan ekonomi Daulah Mughal berhasil diraih lewat pertanian. Hubungan antara petani dan pemerintah sangat baik. Pemerintah membuat pimpinan pimpinan komunitas petani yang disebut Mukaddam. Mukaddam inilah yang menghubungkan hubungan antara petani dengan pemerintah. Hasil tani berupa sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, dan bahan celupan  dan rempah-rempah diekspor ke Eropa, Asia, Afrika, Arab, dan Asia Tenggara

Kemajuan ekonomi ini memberikan dampak baik untuk kemajuan ilmu pengetahuan, seni, dan budaya. Seni sastra Arab, Persia, dan India banyak tersebar di Kawasan India. Para ulama ilmu Al-Qur’an, Tafsir, dan Hadits juga banyak tersebar di semenanjung India ini. Sebut saja Muhammad Jayazi, seorang ulama sufi yang menulis karya besar berisi kebajikan jiwa yang berjudul Padmayat. Kemudian ada juga Abu Fadl yang menulis karya tentang sejarah kerajaan Mughal berjudul Aini Akhbari

Selama satu setengah abad, India dibawah Kerajaan Islam Mughal menjadi salah satu negara adikuasa, ia menguasai perekonomian dunia, dan memiliki militer yang kuat.

 Masa kemunduran hingga runtuhnya Daulah Mughal

 

Setelah masa Sultan Aurangzeb, sultan sultan berikutnya adalah para sultan yang lemah dan suka foya foya, sehingga mereka lalai terhadap tugas dan amanah mereka sebagai pelindung dan pemimpin bagi kaum muslimin.

Akibatnya, mereka dengan lemah menerima kedatangan orang orang eropa, terutama Inggris yang terkenal licik dan dictator demi memperkaya para penguasa Daulah Mughal.

Hingga pada tahun 1803, Delhi berhasil dikuasai oleh Inggris, dan membuat Mughal, beserta rakyatnya berada dibawah tekanan Inggris, sampai akhirnya pada tahun 1858, India secara keseluruhan berada di tangan Inggris, dan para penguasa Inggris mengusir para penguasa Mughal. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan islam di daerah India. Rakyat muslim disana hanya bisa mempertahankan eksistensi mereka saja. Itulah akibatnya jika para pemimpin dan pelindung rakyat hanya memikirkan perut mereka sendiri, bukannya berusaha menyejahterakan rakyat.



 

 

Comments

Popular posts from this blog

History of The Abbasid Caliphate and The Golden Age of Islam

Illustration of the round city of Baghdad Abbasid Caliphate The Abbasid Caliphate was the third caliphate to succeed the Islamic prophet Muhammad. A dynasty founded it descended from Muhammad's uncle, Abbas ibn Abd al-Muttalib. The Abbasid Caliphate first centred its government in Kufa, modern-day Iraq, but in 762 the caliph Al-Mansur founded the city of Baghdad. The Abbasid period was marked by dependence on Persian bureaucrats for governing the territories as well as an increasing inclusion of non-Arab Muslims in the ummah (Muslim community). The Abbasid Caliphate overthrew the Umayyad caliphate in 750 CE and reigned until it was destroyed by the Mongol invasion in 1258. Illustration of The Abbasid Caliphate Illustration of the map of the Abbasid Caliphate.  The Abbasid caliphate was one of the largest and most influential Islamic states in history. It spanned from North Africa to Central Asia and reached its peak of expansion in the 9th and 10th centuries CE. Golden Age of Islam...

The Dutch East India Company (VOC): Sailing Through Time, Shaping the World

The Dutch East India Company (VOC): Sailing Through Time, Shaping the World Introduction In the early 17th century, against the backdrop of the Dutch Golden Age, a maritime juggernaut emerged that would redefine the course of history—the Dutch East India Company, or VOC. Beyond its role as a trading entity, the VOC became a symbol of Dutch economic prowess, global exploration, and the birth of modern capitalism. VOC's Logo and Their Fleets Historical Context As Europe clamoured for dominance in global trade, the Dutch Republic stood at the forefront. The formation of the VOC in 1602 was a strategic response to this fervour, marking the genesis of an enterprise that would transcend the limitations of its time. VOC and Their Trade Routes Global Trade and Colonial Expansion The VOC's trade routes were the arteries of a vast commercial network, connecting the Netherlands to the spice-rich East Indies. The company's influence extended far beyond trade, as it laid the...

The French Revolution: Unveiling a Pivotal Epoch in History

The French Revolution, a watershed moment in the late 18th century, forever altered the course of history, leaving an indelible mark on the socio-political landscape of not just France but the entire world. This post delves into the intricate tapestry of the French Revolution, exploring its historical roots, unfolding events, and far-reaching global impact. I. Background and Causes The Ancien Régime The roots of the French Revolution can be traced back to the oppressive Ancien Régime, characterized by an absolute monarchy, social inequality, and economic disparity. The monarchy, plagued by financial crises exacerbated by costly wars, triggered discontent among the populace. The Pyramid of the Ancien Regime in French Intellectual Enlightenment The Enlightenment thinkers' ideas, promoting reason, liberty, and equality, served as intellectual kindling. Works by Rousseau, Voltaire, and Montesquieu inspired a desire for political change and a dismantling of the existing societal structu...